Setelah Memandang Wajah Bung

Pagi ini aku menatap gambar wajahmu. Lekat-lekat, mataku terpaku pada tatap matamu yang memandang jauh. Entah memandang apa.

Aku membaca catatan tentangmu, tentang perjalanan hidupmu yang tiba-tiba membuat hatiku terasa hangat. “Bung, kamu adalah sosok yang telah membebaskan jiwamu. Membiarkan pikiranmu mengembara dan membebaskan langkah kakimu berkelana. Melihatmu berani, membuat jiwaku terusik. Ia terbangun dengan kaki gemetar setelah bertahun-tahun gentar, dipukul ketakutan.”

Jiwaku menatapku tajam pada aku, lalu kalimat ini diucapkannya dengan tegas,
“Aku… adalah jiwa yang merdeka”, ia menekankan kata ‘Aku’. Begitu yakin dia mengucapkannya, begitu kuat dan dalam kalimat itu merasuk dalam ruang kesadaranku. Kalimat itu menggetarkan dadaku. Ketakutanku gentar, kakinya gemetar dan matanya nanar. Ia tak berdaya, dia tiba-tiba bisu, kepalanya tertunduk, ketakutanku meringkuk tak memiliki daya. Ia begitu malu kepada ‘Aku’ yang telah menyatakan merdeka.

Aku memang masih bisa mendengar ia (ketakutanku) bergumam, tapi kini aku tak mengerti apapun yang ia ucapkan, maka aku pun tak lagi mendengar segala kata yang selama ini membuatku terkurung dalam penjara ketakutanku sendiri. Aku menjalani hidupku sebaik-baik orang yang merdeka. Selanjutnya aku akan belajar perihal yang lain. Perihal merdeka yang tidak serakah.

 

“Be empty of worrying. Think of who created thought! Why do you stay in prison when the door is so wide open?” – Jalaluddin Rumi

Advertisements

Aku Bisa Apa?

Mana pula aku tahu, tiba-tiba saja aku suka padamu. Mana pula aku minta, tapi rindu datang begitu saja.

 

Dua Manusia Ajaib

Ku perkernalkan kepadamu, mereka adalah Nina dan Tian, dua manusia ajaib. Sama-sama jago ‘silat’-lidah [read : bersilat lidah/cek cok/ kadang debat ilmiah sebulan sekali]. Sama-sama cinta buta ke skripsi masing-masing sampai-sampai telat wisuda. Sama-sama suka makan omelet bikinan Bu Kremes.

Malam itu mereka sepakat nongkrong di kedai jagung bakar bareng rombongan anak-anak Geng Uno. Biar lebih cepat mereka memutuskan buat lewat jalan pintas. Lewat gang-gang perkampungan yang cukup sempit dan banyak tanjakan karena itu daerah bukit. Nah, saat lewat tanjakan yang cukup curam, motor Tian berpapasan sama motor lain dari arah berbeda dan pengendaranya terlalu ke tengah jalan, demi menghindari tabrakan akhirnya Tian memilih untuk membanting setir ke kiri. Nina yang dibonceng Tian, ngga terlalu memperhatikan kejadian itu, tapi kemudian dia ngerasa ngilu dan perih di kakinya. Tepat di waktu yang sama Tian merasa ada sesuatu yang terantuk sisi kiri motornya. Tian langsung berhenti, sedetik kemudian…

“Aduuuhhhhh…… kaki gueeeeee!” teriak Nina

Tian celingukan, “Hah! kenapa kaki looo woyyy”

“Kaki gueeee kesrempet trotoaaaaarrrrrr, aduuhhhhh” teriak Nina

“Haahh!” Spontan Tian panik.

Tian melompat turun dari motor, tapi bukannya ngebantu dia malah ketawa, bayangin dah dia ketawaaa. manusia apa dia ini???

“Wahahaaa… kaki lo masih ada ngga? aduh kok gue ngakak, astaghfirullaaah”, ucap Tian. Reaksi teman macam apa ini.

“Aduuhhh! gimana si loooo, gue ngga mau liat, gue takuttttt, begooo” Nina yang masih kaget, akhirnya mewek, itu reaksi alaminya saat takut dan geregetan. Dia emang paling trauma sama luka yang ada darah-darahnya.

“Loh loh.. Waduh! Kok lo nangis, aduhh maafin gue Nin” ucap Tian mulai panik, dia langsung liat kondisi kaki Nina. Sedang Nina masih nangis

“Kaki lo masih ada Ninn…”

“Lo bisa-bisanya becanda yaa, hu hu hu”

“Abis lo kocak dah! Lahh, lo nangis beneran?? Addduh gimana ini… Maafin gue Nin…” Tian minta maaf tapi masih cengengesan, tapi sebenernya dia khawatir beneran cuman ngga bisa tahan liat Nina yang nangis kayak bocah, sambil duduk ngemper di depan rumah orang.

“Nin, lo jangan nangis dong, gue minta maaf Nin, ayo cari betadine” Tian bener-bener minta maaf, ngikut jongkok di samping Nina.

“Ayo buruan…” ucap Nina sambil mengusap air matanya, untung dia ngga ingusan.

“Lo maafin gue ngga tapi?” tanya Tian,

“Ayo buru…” balas Nina geregetan

“Lo udah maafin gue?” desak Tian

Nina diam, dia udah naik duluan di motor Tian.

“Ah elu…” keluh Tian

Mereka pun berangkat, mencari betadine

*di Motor*

“Maafin gue dong Nin… Gue jadi merasa bersalah…”

“ya emanggg, haruss, gue maafinnya ntar kalo sembuh!” ucap Nina dengan nada seolah kesal, padahal dia sebenernya udah maafin kekhilafan sahabatnya itu, tapi dia memilih melanjutkan drama. Dia senang liat sahabatnya panik begini.¬† ha ha ha

“Yahh kok lo gituu, ayo lah.. maafin guee…” Seperti biasa gaya memelas Tian.

“Nin….”, bujuk Tian. Nina ngga bersuara, “Woyyyy….” seru si Tian.

Nina menahan tawa, sambil menahan perih di jari-jari kakinya.

Tian berhenti di warung dekat tempat kejadian, dia langsung membeli betadine dan tissue. Tapi jangan dipikir proses pembelian itu berjalan cepat, karena Tian dengan gayanya masih niat menguji ketabahan Nina menjawab semua pertanyaan¬† “betadine yang gede apa kecil?”, “tisunya yang tipis seribuan apa yang ini sedengan”, “lo mau pake hansaplast?”.

“Nih, baikkan gue. Lo obatin cepet… bisa ngga lo?” ucap Tian sambil menyodorkan bungkusan yang baru dia beli , “Lo mau sekalian gue beliin aqua buat nyiram lukanya?” lanjutnya

“iyeee, ntar aja deh, di Kedai. Ayok berangkat aja” ucap Nina,

“jadi lo maafin gue gak woy?”

“Iye ntar…gue maafin”.

“Tuh kan, lo nih! Lo tu inget… kalo ngga ada gue lo tuh bla bla bla… ” Tian kumat, mengingatkan Nina akan semua jasa-jasa Tian selama ini. Begitu memang gaya obrolan mereka. Tentunya keduanya paham situasi ini hanya candaan khas mereka. Suasana pun cair seperti sedia kala.

“Iyeee iyeeee, pokoknya lo jangan bilang anak-anak kalo gue tadi mewek! Awas lo!” Tegas Nina.

“hahaha…kalo itu sih gue pikir-pikir dulu!”, balas Tian

“Awas lo!” ancam Nina. “Ayok buruuu, capcus!” ajak Nina

“Iye, yok! eh tapi bentar dah. Ini kita dimana yak??” tanya Tian yang ngga tahu dimana lokasi mereka.

“Yaahhhh… gue juga ngga tauuu”,

“Yaahhh…bedonnn” timpal Tian.

“Eluuuu” balas Nina.

Mereka pun menyusuri wilayah antah berantah itu dengan penuh tanda tanya. keduanya membawa smartphone tapi apalah daya jika internet sama-sama tak punya. Wal hasil tiap kebingungan melanda, bertanyalah mereka pada siapa saja, penjaga warung, penjual angsle, orang ronda, hingga mbak-mbak berbaju putih berambut panjang (Ngga dingg.. becanda hehehe). Demikianlah secuil cerita dua manusia ajaib yang semoga persahabatannya tak lekang dimakan usia.

 

Untuk Tian dan Nina

8 7 18

Tuhan, Mengapa Mereka Datang?

Aku memutar acak playlist laguku pagi itu. Aku lega karena lagu pertama yang terputar adalah irama yang pas untuk menemani kegiatanku, bangkit dari tempat tidur, bersiap untuk berangkat kerja, sarapan dan segala rutinitas pagi yang sama dan berulang tiap harinya. Kadang membuatku merasa bosan. Itulah sebabnya, aku selalu butuh irama yang ceria untuk pagiku. Satu-dua lagu terputar dan aku benar-benar bersemangat pagi itu.

Tapi sedetik kemudian.

“Argh!”

Aku mengenal musik ini.

Saat itu, apa pun yang ku lakukan terhenti. Aku terdiam dan ingatanku kembali ke masa setahun silam. Masa saat dia datang dan hari-hari itu. Aku memang belum menghapus lagu miliknya, lagu yang pernah menjadi lagu favoritku, aku tidak tahu, mungkin masih sampai sekarang. Entah.

Aku mengerjap, tersadar dari lamunan.

“Sial…”, keluhku lemah.

Hatiku terasa berat…
Ah, rasa ini…

Detik saat lagu itu terhenti adalah saat aku tiba-tiba merasa lega, entah aku bingung menjelaskannya. Aku memang tak segera mengganti lagu miliknya, aku sengaja dan itu kebiasaanku. Aku menikmati setiap musik dan segala rasa yang ditimbulkannya di dalam dadaku. Aku pun cepat beranjak untuk menyiapkan sarapanku.

Tapi sungguh, aku rasa pagi ini semesta sedang mengajakku bercanda.

Cukup lama lagu berikutnya terputar dan perasaanku mendadak menjadi was-was. Belum sempat aku selesai dengan rasa curigaku. Lalu benar, musik itu. Denting  piano, lalu alunan nada-nada lembut dan sendu milik Banda Neira.

“Oh Tuhan…”, gumamku dalam hati.

Aku tahu saat itu aku benar-benar ingin melanjutkan urutan playlistku dengan lagu berikutnya, tapi aku justru larut dalam perasaan ini. Aku selalu menikmati irama sendu Gardika Gigih, lembut suara Rara Sekar dan getar suara Ananda Badudu ini, selalu. Tanpa rasa ini, rasa… ah! entah. Hanya saja pagi ini, setelah suara seseorang yang lama tak kudengar, dan lagu Sampai Jadi Debu, dan piano, dan Rara dan Ananda… dan sekelibat wajahnya.

Kurasa benar. Suasana pagi ini mengajakku kembali bercanda dengan kenangan.

Aku berbisik lembut kepada Tuhan, “Terimakasih…”

Aku tersenyum, membiarkan kenangan kembali beranjak, mungkin ia akan menyapa seseorang lain. Serta pagi, kubiarkan pagi tersipu dengan senyumanku, mungkin ia akan mengajak seseorang lain bercanda dengannya. Entah siapa, mungkin saja dia.

 

06 07 18

Memulai

 

Aku membayangkan diriku yang duduk disana, di balik jendela putih yang terbuka yang kelambunya teribas lembut oleh angin laut. Aku memandang birunya lautan dan membiarkan jari-jariku menari, menceritakan perasaan-perasaan.

Hari ini setelah lelah berhenti, oh tidak-tidak, berhenti itu kata yang tepat setelah aku pernah memulai. Namun nyatanya, aku belum melangkah, sama-sekali. Aku bukan berhenti, aku memulai. Memulai untuk lebih manusiawi mendengar inginku dan membebaskan diri dari belenggu keraguan, ketakutan, dan rasa tidak berdaya.

Hari ini aku memulai.